Manusia terkadang suka bercanda dengan kehidupan
Dia terlalu terlena akan apa yang terpandang
Padahal itu belum tentu terbaik untuk dirinya
Libatkan Alloh dalam segala urusan
Niscaya rasa syukur tiada hilang
Sajak di atas adalah ungkapan bahwasannya salah satu sifat manusia yaitu selalu merasa kurang (puas) dengan yang dimiliki dan menjadikan orang lain sebagai cerminan. Sebagai perempuan kita adalah seorang anak, istri, saudara, ibu, tetangga, dan rekan (multi peran). Amanah yang besar, tapi insyaAlloh Alloh permudah apabila kita senantiasa belajar dari kalamulloh. Lantas bagaiamanakah seoarang perempuan harus bersikap dalam kehidupan ini?
Nah, pada halaman ini saya akan berbagi dari apa yang pernah saya pelajari tentang kisah Asiah Bin Muzahim. Siapakah beliau? Beliau adalah istri Mush'ab Al Rayyan atau lebih dikenal dengan Fir'aun.
Kisah ini tentu sangat penting kan bunda? untuk diketahui anak! Sejarah memang berkisah akan masa lalu. Tapi dari masa lalu kita belajar menghadapi masa kini dan masa depan.
Bayangkan saja, ketika anak ditanya, siapa kenal fir'aun? kemudian dia menjawab, "oh itu yang suka main tiktok" Miris bukan mendengarnya.
Tentu sebagai orang tua, hal ini tidak ingin terjadi pada anak kita (termasuk anak didik).
Penulis akan berkisah sedikit tentang Asiah bin Muzahim.
Beliau adalah wanita pilihan, putri keturunan nabi yang memegang teguh tauhid dan beriman kepada Alloh s.w.t serta syariat Musa a.s. Bunda Asiah dikenal karena kesholehan dan ketaqwaanya kepada Alloh. Sosok penyayang, sederhana, dan peduli kepada kaum lemah. Namun, bunda Asiah menyembunyikan semua itu dari suaminya yang tiran (Fir'aun). Fir'aun kufur kepada Alloh bahkan dia mengaku Tuhan, astagfirullohal adzim.
Suatu hari, Fir'aun bermimpi ada kobaran api yang datang menghampirinya dari arah Baitul Magdis. Api itu membakar kota mesir dan seluruh penjurunya.
Karena mimpinya yang menyeramkan, dia datang ke peramal untuk menanyakan maksut dari mimpi itu (Nah, tidak boleh dicontoh ya,,,karena ini sama halnya kita menyekutukan Alloh).
"Hai, peramal. saya bermimpi ........., apa maksut dari mimpi itu?" Tanya Fir'aun dengan tegas.
"Tuan, akan lahir seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang akan menghancurkan tuan dan kota Mesir" Jawab sang peramal.
Atas dasar penjelasan sang peramal. Fir'aun memerintahkan bala tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil.
Mendengar kabar itu, ibunda Musa a.s sangat ketakutan. Beliau tidak ingin putranya dibunuh oleh para tentara. Maka dihanyutkanlah Musa a.s di Sungai Nil.
Ketika Bunda Asiah sedang duduk berdua dengan Fir'aun. Beliau melihat benda hitam menyerupai kotak di permukaan air. Lalu, beliau segera memerintahkan pelayannya untuk mengambil benda tersebut. Setelah di buka, Bunda Asiah sangat terkejut karena ternyata di dalam kotak berisi bayi mungil.
"Betapa indah hadiah ini! Hadiah dari Langit" tutur bunda Asiah.
Fir'aun bertanya dengan penuh heran, "Mengapa anak ini terlewatkan tak tersembelih!"
Kemedian Fir'aun memerintah bala tentaranya untuk mengambil bayi yang sedang digendong istrinya tersebut. Namun, bunda Asiah mempertahankannya dan memarahi agar tidak menyentuh bayi tersebut.
istri Fir'aun berkata, "(ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak" sedang mereka tiada menyadari (q.s Al Qashash (28):9).
Asiah terus memohon kepada sang suami agar merelakan bayi itu dirawat olehnya. Namun Fir'aun menolaknya.
Asiah merajuk. "janganlah kau bunuh bayi ini. Ia hanya seorang anak yang belum mengerti apa-apa."
Kemudian Asiah mengeluarkan perhiasannya dan satu wadah berisi bara api diletakkan di hadapan sang bayi. lalu, malaikat Jibril datang dan melemparkan bara api ke tangan bayi. Tak disangka, Musa memasukkan bara tersebut ke mulutnya sehingga terbakar. Itu pula yang dimaksutkan Alloh dalam firman-Nya. "dan lepaskan kekakuan dari lidahku supaya mereka mengerti perkataanku" (Q.S Thaha (20):27-28).
Setelah itu, Fir'aun mengizinkannya. Asiah mencari wanita yang mau menyusui bayi Musa.
Mendengar kabar tersebut, Ibunda Musa langsung pergi mendatangi kediaman Raja Fir'aun.
Begitu meletakkan putranya di pangkuan, ibunda musa senang bukan kepalang. Sejak saat itu, Ibunda Musa tinggal di rumah Fir'aun bersama saudara perempuan dan dukun bayinya. Tidak seoarang pun mengetahui keimanan mereka, bahkan hingga sang dukun bayi meninggal.
Musa dirawat dan dibesarkan layaknya putra raja pada umumnya. Seiring berjalannya waktu, Musa tumbuh besar. Musa dikarunia Alloh perawakan yang kekar dan keberanian yang hebat, serta akal yang cerdas dan bijak. Semua itu merupakan nikmat yang Allloh berikan kepadanya hingga ia tumbuh dewasa dan dikaruniai ilmu dan hikmah.
Kala itu, di Mesir tidak ada yang beriman kecuali Asiah, Hizqil (seorang keluarga Fir'aun), Masyitoh (istri Hidzil), dan seorang laki-laki yang memperingatkan Musa a.s, sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran. Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata, "Hai Musa sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu" (Q.S Qashash (28):20).
Keimanan Masyithah diketahui Fir'aun. Dia menyiksanya, namun Asiah yang berdiri di pojok istana melihat para malaikat naik ke langit membawa ruh Masyithah. Tatkala Alloh menghendaki kebaikan istri Hizqil itu, Asiah bertambah yakin, ikhlas, dan iman.
Melihat hal biadab yang dilakukan suaminya. Kekesalan Asiah tak terbendung, "Celakalah engkau Fir'aun. Alangkah beraninya Engkau kepada Alloh". Mendengar hal itu, Fir'aun marah dan membentaknya.
Jika Asiah masih tetap dengan keimanannya, Fir'aun mengancam akan membunuhnya. Asiah memilih tetap dengan pendiriannya. Akhirnya Fir'aun memerintahkan tentaranya menyiksa Asiah.
Dikisahkan Algojo menyiksa Asiah di bawah terik matahari.
Di tengah penderitaanya, Musa melintas kepadanya. Kemudian Musa berdoa agar Alloh ringankan penderitaan yang dialami oleh ibu angkatnya. Berkat doa Musa, Asiah tidak merasakan sakit sedikit pun.
Pada saat yang sama Asiah pun berdoa kepada Alloh, "Ya Rabb, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang zhalim (Q.S Thaha (66):11).
Kemudian, Alloh mewahyukan kepadanya, "Angkatlah kepalamu dan lihatlah! Asiah pun mengangkatnya kepala. Ternyata sebuah rumah di surga yang terbuat dari permata sudah dibangunkan untuknya. Ia pun tersenyum. Tak Lama Asiah pun mengembuskan nafas terakhirnya.
Sekian kisah Bunda Asiah, semoga kita dapat mengambil hikmah dari kisah ini dan kisahkan cerita ini kepada putra-putri kita ya bunda. Salam Sayang Bunda.